Jumat, 02 Januari 2015

Menapak Bukit Pura Bhur Bwah Swah di Desa Seraya

18 Desember 2014 merupakan tanggal yang bertepatan dengan hari raya Umanis/ Manis Galungan di Bali. Biasanya, masyarakat Bali yang ber-Agama Hindu melakukan persembahyangan, kemudian tidak sedikit yang mengisi waktu dengan liburan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata bersama teman dan sanak saudara, dan ada yang mengisi waktu hari raya Umanis/Manis Galungan dengan sekedar berkumpul dengan keluarga.

Bagi saya Hari Raya ini saya isi dengan kegiatan sembahyang di salah satu Pura yang terletak di Puncak Bukit BisBis di Desa Seraya- Kecamatan Karangasem- Kabupaten Karangasem, yakni Pura Bhur Bwah Swah. Pura Bhur Bwah Swah terletak pada tiga tempat dengan ketinggian yang berbeda Pura Bhur Loka paling bawah, kemudian Pura Bwah Loka , dan Pura Swah Loka terletak di puncak bukit. Penduduk sekitar ada yang menyebut pura Bhur Bwah Swah dengan pura Bwar-Bwaran , Pura Pasar Agung, dan Pura Puncak Sari Gunung Manik Kembar untuk Pura Swah Loka yang berada di Puncak Bukit Bisbis tersebut. Lokasi Bukit bersebelahan dengan Bukit letak Pura Lempuyang-Karangasem. Ada yang bilang bahwa Pura Bhur Bwah Swah ada kaitan dengan Pura di Lempuyang.

Foto Bersama di Pura Bhur Loka

Suasana yang begitu asri, udara yang sejuk, kabut yang sesekali singgah memberi kesan kesejukan hati. Pohon-pohon yang menjulang di sepanjang perjalanan dipadu dengan suara penghuni hutan (spt burung, serangga, dan hewan lainnya) seakan menciptakan kegembiraan dalam hati bahwa hingga saat ini masih bisa menikmati suasana asri alam.
Pura Bhur Loka

Pura Bhur Loka

Untuk mencapai Pura Bhur Loka, kira-kira dapat ditempuh kurang lebih 1 ~ 2 Jam dari kota Amlapura dengan jalur banjar Peninggaran desa Seraya. Jalanan yang menanjak dan menurun akan menjadi teman setia perjalanan, sampai nanti menemui areal parkir, kita menaiki beberapa buah anak tangga hingga sampai di pelataran Pura Bhur Loka.

Perjalanan ke Pura Bwah Loka
Kemudian perjalanan selanjutnya adalah ke Pura Bwah Loka. Untuk mencapai pura tersebut, kita harus mendaki di jalan setapak kurang lebih 2 jam perjalanan. Tanjakan jalur lumayanlah untuk peregangan otot kaki. Di Pura Bwah Loka, hanya ada satu Pelinggih yang belum di pagar (sengker) dan masih cukup sederhana. Disana kami sembahyang sembari melepas lelah. Tak lama berselang setelah kami sembahyang, hujan pun turun dengan derasnya, hingga membuat pakaian kami basah kuyup. tapi itu tidak menyurutkan kami untuk menuju Pura Swah Loka. Kami pun melanjutkan perjalanan. sesekali kami terperosok akibat jalanan yang licin, namun hal tersebut tidak lah menjadi beban, namun seakan menjadi hiburan tersendiri. Menikmati hujan dikala mendaki sambil bercanda ria sungguh moment yang mengasyikkan.
Perjalanan ke Pura Bwah Loka

Pura Bwah Loka

Tanjakan demi tanjakan kami lewati, tak terasa 2 jam perjalanan kami tempuh dari Pura Bwah Loka, ahkirnya kami sampai di Pura Swah Loka. Ternyata disana sudah ada kawan / pemedek (orang yang akan sembahyang) yang berteduh di gubuk dibawah pura. kami pun ikut berteduh ya.. walaupun kami sudah basah kuyup. Canda tawa kami lewati sambil menunggu hujan reda,

Tak lama kami menunggu, hujan pun reda. kami beserta pemedek lainnya yang berteduh beranjak dari tempat duduk dan langsung menuju pura. Kebetulan disana pas ada Pemangku setempat. Sungguh beruntung kami..
Pura Swah Loka

Pemandangan Dari Pura Swah Loka

Pemandangan dari Pura Swah Loka


Seusai sembahyang tak lupa kami berfoto ria.
Sungguh pengalaman yang mengasyikkan
Terimakasih Alam Semesta...

Selasa, 21 Oktober 2014

Awal Tertarik Dengan Kelompok Pencinta Alam

Di awal perkuliahan, merupakan awal yang baru bagi saya untuk berorientasi dengan kehidupan Kampus. Saya harus mencari teman baru dan kesibukan baru diluar kegiatan perkuliahan untuk mengisi hari-hari saya di perantauan. UKM pun menjadi kelompok yang bergengsi saat itu. Apalagi setelah pihak kampus mewajibkan mahasiswanya untuk ikut UKM sebagai syarat wisuda nantinya. Sebelumnya saya tertarik dengan UKM bela diri dan seni tabuh tradisional. Namun entah kenapa saya malas dan terus menunda-nunda untuk mendaftar di UKM tersebut. Suatu hari ketika saya nongkrong di kantin belakang kampus seorang teman mengabari saya tentang UKM Pencinta alam dimana kegiatannya lebih sering mendaki gunung dan kegiatan bertualang yang sifatnya "have fun". Kompast namanya. Setelah seorang teman merayu saya untuk bergabung dengan UKM Pencinta Alam tersebut dengan menceritakan hal hal menarik di setiap kegiatannya (maklum si dia baru ikut gabung dan merasakan kegembiraannya), sayapun memutuskan untuk mendaftarkan diri ke UKM tersebut dengan maksud hanya iseng / ikut ikutan. Yah.. kegiatan pertama yang saya ikuti di UKM pencinta alam di kampus adalah berkemah di Danau Buyan-singaraja. Disana saya mulai beradaptasi dengan udara dingin, teman baru, suasana yang riang gembira. Kegiatan saat itu masih bersifat hanya sekedar jalan dan menikmati hidup. Saat malam, kami diajak melakukan kegiatan jurit malam (sejenis kegiatan berjalan jalan di malam hari) dari buyan camp 1 ke buyan camp 2. Dan keesokan harinya dilakukan pelantikan ketua UKM Pencinta Alam Kompast Bali. Yang hingga kini ditetapkan sebagai tahun bangkit dan awal angkatan tahun 2009. Mulai saat itulah saya menjadi tertarik untuk bergabung secara tetap di UKM Pencinta Alam Kompast Bali dengan mengikuti rangkaian prosesnya..

Bersambung...

Jumat, 24 Agustus 2012

Gunung Agung Ku Menangis

17 Agustus 2012 lalu aku merayakan hari kemerdekaan dengan mendaki gunung Agung dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di puncak tertinggi Pulau Bali. Aku berangkat dengan 14 orang temanku dari denpasar.  Saya memakan waktu hampir 8 jam dari Pura Besakih.

Pertama aku begitu semangat naik dengan teman-teman. Terbayang dipikiranku pemandangan yang eksotis di sore hari. Namun itu berbanding terbalik.

Agung kini tidak sebersih dulu. Banyak sekali saya temukan sampah plastic yang berserakan terutama dekat dengan lokasi Camp (Boyke) atau sekarang bisa disebut Kori Agung.
Batu-batu tebing habis diwarnai dengan corat-coret tidak jelas. Sepertinya orang-orang yang menulis di batu tebing tersebut pengen tenar, dan pengen diketahui oleh yang mendaki kesana bahwa mereka pernah mendaki. Sungguh Kekanak-kanakan bagiku.
Tebing yang penuh Vandalisme

Dan ini yang paling membuat saya jengkel. Ketika saya mendaki saat itu, bukan rombongan saya saja yang mendaki. Banyak juga murid-murid SMA satu kelas dan organisasi-organisasi yang menyatakan Petualang. Banyak dari mereka [terutama murid SMA beserta Guru-nya] memetik bunga Edelweis tanpa perasaan! [persis didepan mata saya] Memetik banyak sekali seakan mereka tak bisa menggenggam dengan satu tangan.. Sudah tahu bunga tersebut bunga langka, masih juga dipetik.
Edelweis di Gunung Agung


Ketika saya Tanya seorang bapak yang memetik bunga edelweis “Mengapa Bapak Memetik bunga langka tersebut”, beliau menjawab  “Ini akan saya berikan kepada istri saya. Ini katanya bunga abadi.. jadi mungkin bisa menandakan cinta kami akan abadi”. Setelah mendengar jawaban bapak tersebut, Saya Tertawa dalam hati. Kayaknya bapak ini terlalu sering nonton film fantasi.. Ha ha hah a
Tapi Tawa saya tidak bisa lama karena masih jengkel dengan prilaku pendaki-pendaki yang tidak tahu etika tersebut..
Sampah Berserakan

Semestinya Semua pendaki sadar akan kelestarian dan ke-Asrian alam . Karena kita Mendaki ingin mencari Kesenangan lewat pemandangan yang asri, bersih, sejuk bukan?. Jika pemandangan kumuh yang terlihat, apa beda pegunungan dengan kota yang kumuh?.

Jika ingin orang lain mengetahui bahwa kita pernah mendaki gunung, cukup dengan Foto kemudian pajang di Facebook atau Twitter dll. Dan jika ingin menikmati keindahan bunga Edelweis, tidak perlu memetiknya. Cukup dengan Foto-foto, kemudian cetak yang besar dan pajang di kamar anda. Bukan begitu?

Minggu, 05 Agustus 2012

Rinjani yang ke dua kalinya

Liburan tahun ini ternyata saya masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk mengunjungi Gunung Rinjani untuk yang ke dua kalinya. Ya, memang ada rasa ingin dan ingin lagi untuk kesini. Namun yang kali ini saya berangkat dengan 7 orang. berikut yang bisa saya ceritakan tentang data perjalanan saya menuju Gunung Rinjani.

Perjalanan dimulai di Sekretariat OASISTALA Lombok Timur yang mana merupakan Organisasi Pecinta Alam di Lombok Timur. Disana kami menitip Motor, karena kami habis dari Gunung Tambora sehari yang lalu.

Jumat, 18 Mei 2012

Belajar Rendah Hati dari Batukaru

Pagi begitu cerah menyambut, tanggal 5 Mei 2012 saya bersama teman-teman akan melakukan pendakian ke gunung Batukaru yang terletak di Tabanan Bali. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya,saya bersama teman-teman kali ini mengambil rute dari jatiluwih. Ya, kata orang jalur terebut adalah yang paling singkat, dibanding dengan jalur dari Wongaya gede.

Jumat, 09 Maret 2012

Menapak Puncak Utara Gunung Raung


Liburan semester ini saya memilih untuk mendaki gunung. Saya memilih  ke gunung raung yang terletak di jawa timur. Menurut peta, ketinggian gunung raung diperkirakan 3.332 m.dpl . Dipuncak gunung ini begitu indah jika cuaca cerah. Saya berangkat dengan yuda dari bali mengendarai sepeda motor vario punya pamanku. Meskipun di jalan motor ku banyak sekali masalahnya namun astungkara saya dapat menyelesaikan misi saya untuk mendaki ke gunung raung.

Minggu, 12 Februari 2012

Perjalanan ke puncak mangu

Bermula dari kegalauan seorang teman yang bosan dengan rutinitasnya, Ingin melakukan survey jalur ke puncak mangu dari bedugul untuk kegiatan organisasi kami nanti. Rencana peserta survey 4 orang, karena kendala motor, akhirnya kami berangkat ber-2. Tapi itu tidak menghilangkan semangat untuk melakukan perjalanan.